"MEUGANG" TRADISI MENYAMBUT RAMADHAN ALA ACEH YANG BUKAN SEKEDAR MAKAN DAGING.

Pedagang daging hari meugang di Aceh 

Dalam menyambut bulan suci Ramadhan berbagai tradisi dilakukan oleh masyarakat muslim di seluruh dunia termasuk halnya di tanah rencong, Nanggroe Aceh Darussalam. "Meugang atau mak-meugang" adalah sebuah tradisi masyarakat Aceh yang telah dilakukan secara turun temurun sejak zaman kesultanan Iskandar Muda. Tradisi ini sangat melekat dalam diri masyarakat Aceh bahkan hingga zaman milenial ini "Meugang" akan selalu dilakukan oleh masyarakat Aceh. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa tradisi ini telah mulai dilakukan sejak kerajaan Aceh Darussalam yang dilaksanakan oleh kerajaan di istana kemudian dihadiri oleh berbagai unsur lapisan masyarakat, mulai dari sultan, ulama, dan tokoh masyarakat kala itu. 

M. Ali Hasyimi dalam bukunya Kebudayaan Aceh dalam sejarah yang terbit di tahun 1983 mengatakan bahwa, pada hari meugang raja akan memerintahkan kepada balai fakir, yaitu suatu badan yang mengurus fakir miskin dan dhuafa untuk membagikan daging, beras serta pakaian kepada para fakir miskin dan dhuafa serta semua biaya tersebut akan menjadi tanggungan bendahara silaturrahim, sebuah lembaga yang menangani hubungan rakyat dan negara di kerajaan Aceh Darussalam. 

Ada juga yang menyebutkan tradisi ini dilakukan oleh sultan Iskandar Muda sebagai rasa syukur dan kegembiraan sang raja dalam menyambut bulan suci Ramadhan, sehingga raja melakukan potong lembu atau kerbau serta dagingnya dibagi kepada masyarakat untuk dinikmati bersama-sama.



Dewasa ini tradisi meugang telah dianggap sebagai warisan budaya tak benda oleh kementerian  pendidikan dan kebudayaan indonesia sejak tahun 2016. meugang juga dilakukan masyarakat Aceh pada saat menyambut idul fitri dan idul adha sehingga dalam setahun ada 3 kali tradisi ini dilakukan. Dalam pelaksanaanya meugang berlangsung selama dua hari yaitu "meugang ce't" (meugang kecil) yang dilakukan dua hari sebelum Ramadhan dan "Meugang rayeuk" yaitu sehari sebelum dimulainya puasa Ramadhan. Pada hari tersebut masyarakat akan berbondong- bondong menuju gang (Pasar) yang menjual daging, namun hal unik terjadi di hari meugang akan muncul pasar daging yang berjamuran di kota kota kabupaten maupun di kecamatan - kecamatan di Aceh, mereka akan membuka lapaknya khusus hanya untuk menjual daging, meskipun terkadang lapak mereka dibuka di hadapan toko-toko namun pihak toko akan dengan senang hati mengizinkan para penjual daging untuk berjualan, mengingat besarnya tradisi meugang. 


Kebanyakan masyarakat Aceh membeli daging sapi lokal untuk dimasak dibandingkan daging sapi yang didatangkan dari daerah lain di indonesia, banyak masyarakat menganggap daging lokal lebih enak dan lebih segar untuk dimasak di hari istimewa tersebut, meskipun harga daging sapi lokal akan sangat tinggi pada hari meugang bahkan di tahun ini berkisar 170 ribu - 180 ribu rupiah perkilo nya. 

Memang kegiatan utama dari meugang ialah makan daging bersama dengan para keluarga, biasanya daging akan dimasak menjadi berbagai macam menu dan paling umum akan dimasak merah aceh, masak merah ini hampir mirip dengan kuah kari, namun ada juga yang memasaknya menjadi sup daging, masak putih, dan bahkan di sate. 


Selain hanya makan daging bersama, tradisi meugang juga banyak mengandung nilai adat dan kebaikan didalamnya, merayakan hari meugang ini akan menjadi momen penting untuk berkumpul seluruh keluarga, biasanya pada hari tersebut anak dan sanak saudara dari perantauan akan pulang ke rumah orang tua mereka untuk berkumpul di hari meugang, nilai kebersamaan dan menyambung silaturahmi inilah yang ingin ditanamkan oleh para leluhur masyarakat Aceh, nilai yang harus terus dijaga dan meugang menjadi salah satu cara menjaga nilai tersebut. 

Semoga tradisi ini akan selalu terjaga tetap kukuh di tengah era modernisasi. 








Misran 
Meugang Ramadhan 1444 H / 2023











Comments

  1. Semoga anak Aceh yang lagi rantau jauh di benua yang berbeda diberikan banyak ketabahan karna gabisa ikut megang bareng keluarga :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

So What's next

MELIHAT EROPA (BUDAPEST) BERSAMA MARKIJA

FIRST ATTEMPT